Saham INCO: Harga Nikel Naik-Turun, Masih Layak Dibeli?

Laba Runtuh, Kuota Melejit: INCO di Ujung Tanduk atau Ujung Emas?

Kamu tahu rasanya naik coaster yang tiba-tiba remnya blong? Itu dialami INCO di semester I 2025. Laba bersih meraos 32%, pendapatan nyungsep 11%. Tapi di sisi lain, kuota bijih saprolitnya justru naik dari 290 ribu ke 2,2 juta ton. Kontras? Iya. Peluang? Bisa jadi.

Sekarang, harga nikel lagi kacau-balau. Tiongkok lesu, baterai EV naik turun kayak ojek online. Pertanyaannya: apakah INCO masih worthy untuk kamu tabung, atau cuma buat diperhatikan dari jauh? Simak dulu analisis cepat berikut.

Kenapa Laba INCO Bisa Ambruk 89% di Q2?

Silakan tepuk tangan untuk biaya bahan bakar. Naik 12% QoQ, bikin margin menipis. Sementara harga jual nikel matte turun 5% jadi US$12.014/ton. Hasilnya: laba bersih Q2 cuma US$3,5 juta, jauh dari US$31 juta di tahun lalu. Singkatnya: pendapatan menurun, biaya produksi malah naik. Sakit? Pasti.

Tapi ini bukan akhir dunia. INCO sudah mulai efisiensi operasional 3%. Kecil? Ya, tapi setidaknya arahnya benar. Kadang kita harus bahagia dengan kenaikan receh, karena kalau turunnya ratusan persen, itu baru menyeramkan.

Biaya Produksi Naik, Apa Saja yang Membengkak?

Tiga biaya utama: bahan bakar, listrik, dan ongkos angkut laut. Semua naik karena harga minyak global dan tarif tongkang. Solusinya? Manajemen lagi uji coba energi terbarukan dan kontrak pengangkutan jangka panjang. Kalau berhasil, 2026 bisa lebih tenang.

Apakah Harga Jual Bakal Pulih di H2?

Spekulasi sih iya, tapi data JP Morgan menunjukkan premi saprolit 1,7% sudah US$22–25/wmt. Kalau tren ini bertahan, INCO bisa jual mahal. Tapi ingat, sebagian besar jadi limonit yang harganya cuma US$16/wmt. Jangan berharap miracle.

Proyek Baru: Cepat dari Jadwal, Apa Dampaknya?

Smelter Bahodopi mau produksi akhir 2025, Pomalaa 2026. Keduanya lebih cepat dari rencana awal. Artinya: pendapatan dari bijih saprolit bisa masuk lebih awal. JP Morgan perkirakan harga long-run saprolit naik jadi US$42/wmt. Kenaikan 10% dari model sebelumnya.

Plus, kuota RKAB 2,2 juta ton itu bakal diekspor ke mitra HPAL seperti Huayou dan GEM. Dengan asumsi 82% pembayaran kontrak (naik dari 78%), arus kas bakal lebih sehat. Tapi ingat: limonit tetap murah, jaga ekspektasi.

  • Bahodopi: produksi akhir 2025, saprolit premium.
  • Pomalaa: fokus nikel matte, mulai 2026.
  • HPAL: supply baterai EV, capex besar US$1–1,2 miliar.

Rekomendasi Analis: Beli, Tahan, atau Jual?

Ina Sekuritas target Rp4.650, Infovesta Rp5.000. JP Morgan netral di Rp4.100. Rata-rata masih 20% upside dari hari ini. Tapi ingat, proyek butuh dana gede. Kalau bank ogah modal, semua bisa tertunda. Jadi, pakai prinsip 3T: Takut, Tahan, Tambah. Takut dulu, tahan kalau kuat, tambah kalau cash flow kamu aman.

Kesimpulan

INCO sedang di fase “sakit tumbuh”. Laba anjlok tapi potensi kuota dan proyek baru besar. Risiko: harga nikel liar, biaya produksi ngambang, dan utang proyek HPAL. Imbal balik: saprolit premium, pasar EV membesar, serta rencana efisiensi. Kalau kamu investor jangka pendek, siap-siap was-was. Tapi kalau horizon 2–3 tahun dan suka roller-coaster, tiketnya masih terjangkau. Inti: riset dulu, baru napsu. Dan jangan lupa, hanya pakai uang dingin. Happy (cautious) investing!

FAQ

Apa penyebab laba INCO anjlok 89% di Q2 2025?

Kenaikan beban pokok pendapatan 12% QoQ akibat mahalnya bahan bakar dan harga jual nikel matte turun 5%.

Mengapa kuota bijih INCO tiba-tiba naik 7 kali lipat?

Pemerintah setujui revisi RKAB 2025, naik dari 290 ribu ke 2,2 juta ton basah untuk ekspor saprolit.

Apa saja proyek anyar INCO yang bisa mendorong pendapatan?

Smelter Bahodopi mulai akhir 2025, Pomalaa 2026, serta pabrik HPAL untuk pasokan baterai EV.

Bagaimana target harga saham INCO para analis?

Ina Sekuritas Rp4.650, Infovesta Rp5.000, JP Morgan Rp4.100; rata-rata masih ada upside sekitar 20%.

Apa risiko utama berinvestasi di INCO saat ini?

Fluktuasi harga nikel global, kenaikan biaya produksi, serta pembiayaan proyek HPAL hingga US$1,2 miliar.

References

Saya Sang Putu Jaya Anggara Putra, seorang digital marketing yang tinggal di Denpasar, Bali. Saya menjalankan Jay.Foll, sebuah panel media sosial yang inovatif, dan juga bekerja sebagai webmaster utama di PT Mousmedia Bali, agensi pemasaran digital yang membantu bisnis tampil lebih baik di dunia digital.