Dulu Gampang Banget Jualan, Sekarang Kok Malah Seret?
Pernah nggak kamu mikir, kok bisa ya perusahaan ritel gede yang cabangnya di mana-mana, penjualannya cuma naik sedikit? Padahal, kalau kita lihat di mal atau minimarket, kayaknya ramai terus. Kamu mungkin mikir, “Wah, pasti untungnya gila-gilaan nih!”
Tapi, kenyataan di lapangan kadang beda jauh sama ekspektasi kita, lho. Ibaratnya, kamu ngarep dapat hadiah mobil, eh yang datang malah sepeda ontel bekas. Ada yang namanya kinerja penjualan ritel lesu, dan ini yang lagi dialami banyak emiten di Indonesia.
Penjualan Ritel Loyo: Ada Apa Gerangan?
Jadi begini ceritanya. Banyak emiten ritel, perusahaan yang jualan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, dari baju sampai elektronik, lagi nggak terlalu ngebut penjualannya. Sampai Kuartal III-2025 kemarin, mayoritas dari mereka cuma bisa tumbuh satu digit.
Angka satu digit itu, kalau kamu belum tahu, artinya cuma naik di bawah 10%. Mirip kayak nilai ujian kamu yang cuma dapat 70, padahal targetnya 90. Nah, ini bukan cuma satu atau dua perusahaan, tapi mayoritas!
Angka-Angka yang Bikin Kening Berkerut
Coba deh kita intip beberapa nama besar. Ada PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) yang jualannya cuma naik tipis 1,69%. Lalu ada PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) alias Alfamart, naiknya 7,09%. Saudara dekatnya, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) atau Alfamidi, cuma nambah 4%.
Bahkan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPI) yang jual produk gaya hidup, naiknya 8,76%. Ini semua di bawah 10%, kan? Ibaratnya, ini kayak kamu disuruh lari maraton, tapi kebanyakan cuma jalan kaki, bahkan ada yang ngos-ngosan dan mundur.
- ACES: Pertumbuhan penjualan cuma 1,69%
- AMRT: Penjualan naik 7,09%
- MIDI: Hanya tumbuh 4%
- MAPI: Naik 8,76%
- HERO: Bertambah 3,86%
- ERAA: Meningkat 7,72%
Dari sekian banyak itu, cuma satu yang bisa ‘pamer’ angka dua digit, yaitu PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dengan kenaikan 12,28%. Ini kayak satu-satunya murid di kelas yang nilainya di atas rata-rata banget.
Parahnya lagi, ada juga yang malah jualan mundur. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) turun 11,15%, dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) anjlok 9,98%. Ini sih bukan cuma lesu, tapi udah kayak mau pingsan. Jadi, jelas kan sekarang kenapa kita sebut kinerja penjualan ritel lesu?
Bukan Cuma Kamu yang Hemat, Konsumen Juga!
Kenapa sih kok bisa gini? Menurut para ahli, ini ada beberapa alasannya. Pertama, daya beli konsumen kelas menengah ke bawah lagi ‘moderasi’. Bahasa gampangnya, dompet mereka lagi tipis, atau setidaknya lagi mikir keras sebelum beli.
Inflasi pangan yang masih tinggi dan harga BBM yang sempat naik juga ikut memperparah keadaan. Kamu tahu sendiri kan, kalau harga cabe naik, harga bensin naik, otomatis jatah uang buat beli baju baru atau ganti HP baru jadi berkurang. Prioritas utama ya buat kebutuhan pokok dulu, dong. Makan, minum, transport. Beli skin care bisa ditunda!
Kedua, ada efek “high base” dari tahun 2024. Waktu itu, setelah pandemi reda, orang-orang pada kalap belanja. Pemerintah juga kasih stimulus sana-sini. Nah, setelah pesta besar, wajar kalau tahun berikutnya agak ‘adem’. Kita kan juga butuh istirahat setelah marathon belanja, iya kan?
Terus, ada juga fenomena “downtrading”. Ini artinya, konsumen cenderung menahan diri buat beli barang-barang yang sifatnya ‘keinginan’, bukan ‘kebutuhan’. Contohnya, daripada beli HP keluaran terbaru yang harganya selangit, mending pakai yang lama dulu, atau beli yang bekas tapi masih bagus. Ini bikin penjualan barang kayak fesyen, elektronik, atau peralatan rumah tangga jadi seret. Jadi, konsumen lagi mikir: butuh, mau, atau bisa ditunda? Nah, kebanyakan milih yang terakhir.
Suku Bunga Tinggi dan Dompet yang Hati-Hati
Selain alasan di atas, ada lagi nih. Kata Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, performa emiten ritel yang “gini-gini aja” juga dipengaruhi daya beli masyarakat yang lesu. Ini bisa dilihat dari pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) yang sempat di bawah 6% di awal 2025.
Apa artinya M2 ini? Gampangannya, ini kayak total uang yang lagi beredar di ekonomi kita. Kalau pertumbuhannya lambat, berarti konsumsi rumah tangga juga ikutan lambat. Ini terjadi karena suku bunga bank lagi tinggi. Kalau suku bunga tinggi, orang mikir dua kali buat pinjam uang, karena cicilannya jadi mahal. Jadi, orang-orang makin hati-hati buat belanja yang nggak esensial.
Para pelaku usaha juga ikut-ikutan hati-hati. Penyaluran kredit buat sektor perdagangan atau akomodasi itu fluktuatif, bahkan melambat. Mereka nggak mau asal ekspansi kalau permintaannya lagi nggak jelas. Ini menunjukkan bahwa baik konsumen maupun pengusaha, sama-sama lagi ngerem.
Tapi, Jangan Panik Dulu: Ada ‘Suntikan Dana’ dari Pemerintah
Untungnya, nggak semua berita itu suram. Ada juga kok secercah harapan. Di semester kedua 2025, tanda-tanda perbaikan mulai kelihatan.
Pemerintah kita itu nggak tinggal diam. Mereka kasih ‘suntikan dana’ berupa stimulus fiskal sekitar Rp 200 triliun ke bank-bank BUMN (Himbara) dan kebijakan yang fokus ciptain lapangan kerja. Ini kayak dikasih vitamin dosis tinggi biar ekonomi kita seger lagi.
Efeknya, likuiditas di perbankan jadi nambah, dan pertumbuhan M2 juga mulai naik lagi, dari 6,43% jadi 8,00% di September 2025. Ini sinyal bagus, lho. Artinya, uang yang beredar mulai banyak lagi, dan ini bisa pelan-pelan dorong permintaan domestik sampai akhir tahun. Kita berharapnya sih begitu, ya.
Selain itu, kita juga bakal kedatangan momentum musiman yang dinanti-nanti: Natal dan Tahun Baru (Nataru). Ini biasanya bikin orang pada kalap belanja, terutama buat fesyen dan kebutuhan sehari-hari. Plus, pemerintah juga bakal nyalurin Bantuan Langsung Tunai (BLT) sekitar Rp 30 triliun buat sekitar 35 juta keluarga di Kuartal IV-2025. Ini tentu bisa jadi dorongan ekstra buat belanja, meskipun ya, tergantung seberapa cepat dan tepat distribusinya.
Siapa yang Tetap Senyum di Tengah Badai?
Meskipun kinerja penjualan ritel lesu, nggak semua bakal kena dampak sama rata. Beberapa segmen masih bisa senyum lebar.
Menurut Ratih, ritel yang fokus ke konsumen menengah ke atas cenderung lebih ‘kebal’ sama tekanan ekonomi. Kenapa? Karena kelompok ini daya belinya relatif stabil, nggak gampang goyah walau ekonomi lagi melambat. Jadi, saham-saham ritel yang jual produk premium, gaya hidup, makanan-minuman modern, atau fesyen, punya potensi untuk tetap kinclong.
Selain itu, perusahaan yang efisien banget dan jago pakai strategi multi-channel (jualan di toko fisik dan online sekaligus) juga lebih gampang jaga margin keuntungan. Mereka bisa lebih fleksibel hadapi naik turunnya permintaan pasar. Jadi, kalau kamu mau investasi, ini bisa jadi petunjuk awal.
Buat Investor: Jangan Asal Beli, Pikirkan Strategi!
Kalau kamu seorang investor, atau lagi kepikiran buat investasi di saham ritel, jangan cuma lihat judul beritanya aja, ya. Analisis lebih dalam itu penting banget, kayak Dr. Indrawan Nugroho yang selalu kasih analisis tajam.
Irsyady Hanief dari Henan Sekuritas merekomendasikan ‘buy on weakness’ untuk saham AMRT. Ini artinya, kalau harganya lagi turun sedikit, itu waktu yang bagus buat beli. Targetnya dia, di level Rp 1.935-Rp 1.900, dengan potensi untung di Rp 2.100-Rp 2.090. Stop rugi di Rp 1.825-Rp 1.820. Alasannya, AMRT punya potensi pertumbuhan stabil dan ekspansi jaringan yang bagus, serta jualan kebutuhan harian yang relatif tahan banting.
Sementara itu, Ratih dari Ajaib Sekuritas punya saran lain. Dia rekomendasikan ‘buy on breakout’ buat saham MAPI, dengan target harga Rp 1.500 dan dukungan di Rp 1.250. Buat AMRT, dia juga saranin ‘buy on weakness’ dengan target harga Rp 2.300 dan dukungan di Rp 1.840.
Ingat, rekomendasi ini bukan ajakan untuk langsung beli tanpa mikir. Kamu perlu riset lagi, sesuaikan sama profil risiko kamu. Ferry Irwandi pernah bilang, setiap keputusan itu ada konsekuensinya. Jadi, jangan asal ikut-ikutan. Pahami dulu, baru ambil tindakan.
Tiga Hal Penting yang Perlu Kamu Ingat:
- Daya Beli Konsumen Lagi di Ujung Tanduk: Inflasi, BBM, dan suku bunga tinggi bikin orang mikir dua kali buat belanja yang nggak penting.
- Pemerintah Nggak Diam: Ada stimulus dan BLT yang berpotensi jadi pendorong, terutama jelang akhir tahun.
- Pilih yang Kuat: Emiten yang fokus ke segmen premium atau punya strategi multi-channel yang efisien punya peluang lebih baik.
Ini kayak kata Timothy Ronald, motivasi itu harus realistis. Nggak bisa cuma berharap, tapi harus lihat data dan fakta di lapangan. Dan Raymond Chin pasti setuju, pola pikir bisnis yang logis itu kunci. Jangan cuma ngarep, tapi rencanakan.
Jadi, Ritel Kita Ini Mau Ke Mana?
Kinerja penjualan ritel lesu memang jadi sorotan utama. Ibaratnya, ini kayak mobil yang lagi jalan di gigi dua, bukan gigi lima. Tapi, bukan berarti mogok total, kan? Ada potensi perbaikan, terutama dari suntikan dana pemerintah dan momentum akhir tahun.
Buat kamu yang lagi pengen lihat ritel kita ngebut lagi, sabar ya. Ini bukan sprint, tapi maraton. Sektor ritel itu kayak pasar kaget, ada naik turunnya. Yang penting, kamu sebagai konsumen bijak belanja, dan sebagai investor, bijak memilih saham. Semoga saja, di kuartal berikutnya, angka-angka itu bisa bikin senyum kita lebih lebar lagi, bukan cuma kening berkerut.