September Effect Gagal, IHSG Tetap Grebek 8.000
Biasanya September itu bulan galau. IHSG turun, investor cengeng. Tapi 2025? Beda. September baru selesai, IHSG malah naik 3,43% dan nyantol di 8.099. Lucu, kan?
Kenapa bisa? Tiga penyebab: konglomerasi ngacir karena laba bagus, BI rate potong hobi, dan rupiah stabil kayak pendekar. Hasilnya? Dana asing balik, saham syok naik.
Kenapa September Effect Mogok
Data 10 tahun terakhir bilang: 7 kali IHSG anjlok di September. Tapi 2025 malah naik. Audi dari Kiwoom bilang ini anomali. Pasar sudah discounting sentimen positif lebih cepat.
Saham Konglomerasi Jadi Lokomotif
Emiten gede kayak BBCA, BBRI terbitin laba gemuk plus masuk indeks global. Harganya naik, IHSG otomatis ikut terseret.
BI Rate Turun, Dana Balik ke Saham
BI potong suku bunga dua kali. Deposito males, obligasi kurang greget. Alhasil uang mengalir ke saham. Cost of fund turun, emiten bisa ekspansi.
Proyeksi IHSG Sampai Akhir 2025
RHB masih overweight perbankan, consumer staples, dan komoditas defensif. Target konservatif: naik moderat. Mirae lebih agresif, skenario positif 8.246, negatif 7.419. Jadi masih ada upside 2–9%.
- Overweight BBCA, BRIS, BBRI
- Consumer: ICBP, AMRT
- Komoditas: ANTM, INCO
Triknya? Beli di koreksi, pilih fundamental kuat, pastikan likuiditas tinggi. Jangan keburu FOMO.
Kesimpulan
September Effect 2025 gagal datang karena sentimen lokal kuat dan suku bunga rendah. Peluang window dressing Desember masih terbuka, tapi naiknya bakal moderat. Fokus saham bank, consumer, dan komoditas. Siapin cash, tunggu koreksi, lalu akumulasi. Profit taking bisa muncul kapan saja, jadi pasang stop loss. Tetap tenang, tetap greedy saat orang takut.
FAQ
Tidak. Data 10 tahun cuma 70% terjadi. 2025 malah naik, bukti tak ada yang pasti di pasar.
Analis pilih BBCA, BBRI, ICBP, AMRT, ANTM, INCO. Fokus bank, consumer, dan komoditas.
Mirae Asset skenario positif 8.246, artinya masih ada upside 2% dari kini.
Iya. Profit taking bisa muncul kapan saja. Siapkan cash beli di dip.